Gaya Nongkrong Malam Minggu, Intelek, Beretika Gak Neko-Neko

Jumat, 27 Agustus 2010

Holy Quran (3)

185. the month of Ramadân In which was revealed the Qur'ân, a guidance for mankind and clear proofs for the guidance and the criterion (between Right and wrong). so whoever of You sights (the crescent on the first night of) the month (of Ramadân i.e. is present at his home), He must observe Saum (fasts) that month, and whoever is ill or on a journey, the same number [of days which one did not observe Saum (fasts) must be made up] from other days. Allâh intends for You ease, and He does not want to make things difficult for you. (He wants that you) must complete the same number (of days), and that You must magnify Allâh [i.e. to Say Takbîr (Allâhu-Akbar; Allâh is the Most Great) on Seeing the crescent of the months of Ramadân and Shawwâl] for having guided You so that You may be grateful to Him.


Al Baqarah : 185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Subhanalloh, Maha Suci Alloh yang telah Menurunkan Al Quran dengan segala kemuliaan dan keistimewaan :
  1. Diturunkan kepada manusia yang paling mulia diantara milyaran manusia, bahkan dari semua makhluk yang diciptakanNya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Paling mulia diantara manusia karena Beliau pernah menjadi imam sholat yang dimakmumi oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya di Masjidil Aqsa pada saat Isro’, dan dimuliakan atas seluruh malaikat saat di Sidratul Muntaha di saat Mikroj. Seorang yang paling mulia akhlaqnya, paling adil dalam memimpin ummatnya, paling kasih sayang kepada keluarganya, dan seorang yang paling berpengaruh sepanjang peradaban manusia.
  2. Awal diturunkannya adalah pada malam hari yang paling mulia di antara waktu yang diciptakanNya, di malam yang kebaikannya lebih dari seribu bulan ( setara dengan 30X1000 hari = 30.000 hari ) !
  3. Penulisannya dalam bahasa Arab yang memiliki keunggulan dibanding semua bahasa yang diilhamkanNya kepada manusia. Bahkan atas keMaha-Kuasa-anNya seluruh kalimat yang ada dalam Al Quran semuanya berbahasa Arab, tidak terselip satu kata pun yang berasal dari bahasa lain selain bahasa Arab. Hanyalah huruf huruf bahasa Arab yang sah sebagai huruf huruf yang dipakai melambangkan lafal lafal ayat ayatnya. Dengan huruf huruf itulah Alloh SWT menimbang balasan atas amalan menghafal, membaca, dan mendengarkannya. Dan, atas dasar jumlah ayat yang telah dihafalkan itulah derajat penghuni Al Jannah ditentukan. Subhanalloh...
  4. Al Quran, sejak mulai diturunkan hingga sekarang, Alloh SWT telah menjaga kemurniannya, dengan keMaha-Kuasa-nya, Alloh SWT telah menjaganya dari tangan – tangan yang ingin memalsukannya. Senantiasa ada manusia – manusia yang dikasihinNya yang mampu menghafal seluruh ayat – ayatNya. Ini juga salah satu kemuliaannya, tidak ada satu kitab-pun yang lebih banyak pembacanya dan penghafalnya selain Al Quran.
  5. Kalimat yang tertulis dikehendakiNya dilatunkan dengan irama khusus, dengan tartil. Salah satu tuntunannya telah ditulis oleh para pencinta Al Quran dalam Kitab Tajwid. Al Quran adalah satu satunya kitab yang membutuhkan panduan cara membacanya. Dengan itulah terdengar sangat merdu saat dilantunkan oleh semua lisan manusia, dari semua suku/ras/warna kulit manusia, dari semua kelompok umur manusia (usia belia, dewasa, atau tua). Bahkan, sangat sesuai diperdengarkan dalam segala suasana, tidak hanya saat sholat atau beribadah, tetapi juga saat manusia diliputi kebahagiaan (misal : pesta pernikahan dan menyambut kelahiran) atau saat manusia diliputi kesedihan ( misal waktu sakit atau ditimpa musibah). Selain itu, tidak hanya mereka yang membaca yang dijanjikan pahala, namun juga mereka yang mendengarkannya juga dihadiahi pahala.
  6. Peraturan hidup yang difirmankan Alloh SWT di dalam Al Quran meliputi seluruh bidang kehidupan manusia. Sejak awal diturunkanNya saat Rasulullah SAW menerima wahyu di Gua Hira ( lebih dari seribu tahun yang lalu) hingga saat ini, telah terbukti mampu menjadi inspirasi dan alasan manusia hidup berlandaskankannya untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sangat sempurna dan menyeluruh mencakup semua persoalan hidup manusia. Meliputi : (1) peraturan tentang keimanan dan peribadahan kepada Alloh SWT, (2) norma dan tata kehidupan mengenai interaksi antar manusia dalam aspek keluarga, masyarakat, dan negara/pemerintahan, dan (3) adab dan akhlaq dalam memperlakukan jasad / tubuh yang telah dikaruniakanNya; mengenai makanan, minuman, pakaian, budi pekerti yang semestinya dilekatkan dalam setiap amal kebaikan manusia.
  7. Aturan kehidupan yang dikandung Al Quran, telah disiapkanNya untuk mengatur kehidupan semua manusia. Tidak hanya bagi mereka yang beriman dengan Al Quran dan Alloh SWT yang menurunkannya, tetapi juga mengatur kehidupan mereka yang kufur terhadapnya dan tidak megimani ke-Tuhanan Alloh SWT. Al Quran adalah hudan lil muttaqin dan hudan linnaas. Ketika manusia mentaati aturannya maka selamatlah ia, sebaliknya kalau manusia ingkar dengan tuntunannya maka celakalah ia.
  8. Dan, secara emphiris Al Quran telah mengantarkan berdirinya bangunan masyarakat Islam di bawah naungan pemerintahan Islam. Sejak Rasulullah SAW hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam, saat itulah Al Quran diterapkan sebagai perundang undangan yang mengatur kehidupan warga negara, dan diterapkan kepada yang Mukmin maupun yang kafir. Al Quran-lah yang mengantarkan perubahan yang sangat luar biasa bagi masyarakat Arab dan wilayah wilayah lain yang digabungkan dalam wilayah Islam. Al Quran telah terbukti mengantarkan manusia berada pada peradaban yang cemerlang dan mulia. Hingga saat ini, masih dapat dilihat pengaruh Al Quran dalam kehidupan manusia, bahkan saat manusia tidak lagi memiliki institusi negara yang secara sempurna menegakkannya.
Subhanalloh, Maha Suci Alloh SWT yang telah melimpahkan semua kemuliaan Al Quran, yang tidak mampu dituangkan penulis ( karena keterbatasan ilmu yang kami miliki)

Maka sangatlah aneh dan gegabah adanya pihak pihak yang melecehkan Al Quran, sangatlah sembrono jika ada manusia manusia yang menghina Al Quran. Adakah mereka memiliki Kitab yang lebih mulia dari Al Quran. Atau bahkan ada yang sangat celaka jika ada yang hendak membakarnya karena membecinya, seperti yang akan dilakukan oleh sebuah gereja di Gainesville, Florida mengumumkan akan menyelenggarakan "Hari Membakar Al-Quran Internasional" untuk memperingati 9 tahun serangan 11 September di AS.


Wallohu alam

Edi Sutrisno, Tulungagung, Jumat, 16 Ramadhan 1431 H _ 27 Agustus 2010 M

Kamis, 22 Mei 2008

” Unlimited Time ”

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mere-kapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. ( TQS Al Bayyinah [98] : 7 – 8 )

Kawan, semoga kita tergolong orang – orang yang dijanjikan oleh Alloh SWT, yang akan menda-patkan balasan syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan semoga Alloh SWT menetapkan kita berada di dalamnya kekal selama-lamanya. Amiin.
Kekal adalah abadi, adalah zaman / waktu / tempo / masa yang tak ada batasnya adalah unlimited time ! Subhanalloh. Wallohu’alam.

Semoga kita tergolong orang – orang yang beriman. Kita beriman kepada Alloh SWT, yakin adanya Malaikat Alloh SWT, percaya adanya Nabi dan Rasul Alloh SWT, membenarkan adanya Kitab-Kitab Suci yang telah diturunkan Alloh SWT, yakin atas ketetapan Qodlo dan Qodar Alloh SWT, dan beriman atas adanya Hari Kiamat – Hari Akhirat yang telah ditentukan Alloh SWT.
Semoga kita termasuk orang – orang yang senantiasa beramal saleh. Kita selalu melaksanakan perbuatan dan perkataan yang diperintahkan Alloh SWT. Kita beribadah – menyembah Alloh SWT dengan niatan ikhlas karena Alloh SWT dan dengan tata cara yang sesuai petunjukNya.

Kawan, juga, semoga kita senantiasa termasuk orang – orang yang beruntung, yaitu orang – orang senantiasa melaksanakan aktivitas saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Alloh SWT telah berfirman : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (TQS Al Ashr [103] : 1-3)

Kawan, pada saat kita meneguhkan keimanan dan menghindari kekafiran dan kemusyrikan, maka sesungguhnya kita sedang menuju kepada kebahagiaan abadi yang dijanjikan Alloh SWT. Pada saat kita melaksanakan perintah Alloh SWT dan menjauhi larangan Alloh SWT; sebenarnya kita sedang mengharap keridloanNya, sehingga Dia berkenan menyiapkan tempat yang penuh kenikmatan bagi kita untuk ’masa yang tidak terbatas’. Dan pada saat kita saling menasehati dalam ketaatan dan kesabaran melaksanakan syariatNya, maka sebenarnya kita sedang meraih keberuntungan yang disiapkanNya.

Kawan, benarlah jika dikatakan bahwa bagi seorang mukmin yang senantiasa beramal sholeh maka tiada amalnya yang sia – sia, karena akan dibalasNya dengan syurga ‘Adn. Waktu yang dihabiskan untuk bertaqwa kepada Alloh SWT adalah waktu yang ia miliki, karena akan diganti olehNya. Harta yang ia nafkahkan sesuai perintah Alloh SWT adalah harta yang ia miliki, karena akan diganti olehNya.

Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman, maka waktu yang ia habiskan dan harta yang ia belanjakan di dunia, hanyalah ia miliki di dunia. Karena di akhirat ia akan mendapatkan siksaan, kesusahan, yang tiada akhir, kepedihan yang unlimited time. Naudzublilah min dzalik. Sebagaimana yang telah difirmankan Alloh SWT : Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (TQS Al Bayyinah [98] : 6).

Akhirnya, marilah kita bersemangat untuk meraih keridloan Alloh SWT dan bersungguh – sungguh memanfaatkan waktu dan harta kita dalam mentaatiNya, agar kita dianggap layak olehNya mendapatkan kenikmatan abadi, yang unlimited time, yang telah dijanjikanNya. Amin. ****

Ditulis oleh Edy Sutrisno untuk buletin Buka Hati lembar ke-10 yang diedarkan di aloon-aloon Tulungagung pada tanggal 17 Mei 2008.

Minggu, 04 Mei 2008

The Holy Quran (part 2)

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (TQS Ibrahim [14] : 1)

Kawan, alhamdulillah, segala puji kepada Alloh SWT yang telah menurunkan Al Quran sebagai pedoman hidup kita. Kitab yang sangat istimewa. Kitab yang penuh kemuliaan.

Subhanalloh. Al Quran sangat istimewa. Alloh SWT telah memilih Nabi Muhammad SAW sebagai penerima firman Al Quran (dari sekian miliar manusia), Alloh SWT telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al Quran (dari sekian bahasa yang ada di dunia). Alloh SWT telah memilih kata – kata dan kalimat yang ada di Al Quran (dari ribuan kata dan kalimat yang ada dalam bahasa Arab). Sebagaimana firmanNya : “(Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (TQS Az Zumar [39] : 29)

Kawan, Al Quran sangat mulia. Kalimat – kalimat yang ada dalam ayat – ayat Al Quran adalah kalimat – kalimat yang difirmankan Alloh SWT yang pernah keluar dari lisan Nabi Muhammad SAW, manusia yang paling mulia. Lafadz yang ada pada Surat Al Fatihah, misalnya, adalah lafadz – lafadz yang pernah diucapkan oleh Rasululloh SAW. Dan lafadz – lafadz itu adalah firman Alloh SWT, wahyu Alloh SWT, Dzat yang Menciptakan alam semesta beserta isinya.

Subhanalloh, pada saat kita membaca ayat – ayat Al Quran, maka sebenarnya, pada saat itu kita sedang mengucapkan kata – kata yang pernah diucapkan oleh Rasululloh SAW, pada saat itu kita sedang melantunkan kata – kata yang diperintahkan Alloh SWT untuk kita ucapkan. Saat itu kita sedang beribadah kepadaNya. Sebagaimana firmanNya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguh-nya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (TQS Al ‘Ankabut [29] : 45)

Kawan, pada waktu kita membaca Al Quran, pada saat itu kita melafalkan perintah, larangan, dan berita dari Alloh SWT. Atas perintahNya kita wajib melaksanakan, terhadap laranganNya kita wajib meninggalkan, kepada berita yang disampaikanNya kita wajib mengimaninya. Oleh karena itu marilah kita yakini kebenaran seluruh isi Al Quran. Firman Alloh SWT : "Apakah kalian mengimani sebagian al-Quran dan mengingkari sebagian yang lainnya? Tiada balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antara kalian selain kenistaan dalam kehidupan dunia, sementara pada hari Kiamat kelak mereka dilemparkan ke dalam azab yang sangat berat.” ( TQS al-Baqarah [2]: 85)

Lalu, sudahkah kita mampu membacanya ? Kalau belum, marilah kita belajar. Kalau sudah bisa membaca, akan lebih baik, jika kita juga membaca terjemahannya, sehingga kita dapat memahami makna yang dikandung dari ayat – ayat yang kita baca.

Bagi yang sudah mampu mengajar membaca Al Quran, marilah kita bagi ilmu kita kepada kawan – kawan kita. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW : Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang – orang yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya. ( HR al-Bukhari dari Ustman bin Affan r.a.)

Akhirnya, semoga Alloh SWT melimpahkan pertolongan dan petunjuk kepada kita. Amin.
Wallohu’alam.***

Ditulis oleh Edy Sutrisno, untuk bahan buletin buka hati yang diedarkan di seputar aloon-aloon tulungagung pada hari sabtu tanggal 3 Mei 2008.

Minggu, 27 April 2008

The Holy Quran

” Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang – orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar ” (TQS Al Isra [17] : 9)

Kawan, apa yang menyebabkan kita percaya adanya surga (al-jannah) dan neraka (an-nar) ? Jawabannya adalah karena kita orang beriman yang memang diwajibkan untuk meyakini adanya surga dan neraka. Lalu, darimana kita mendapat informasi tentang adanya surga dan neraka ? Jawaban yang pasti adalah bahwa kita mengetahui adanya kenikmatan di surga dan adanya siksaan di neraka dari Al Quran (dan dari Hadist Nabi Muhammad SAW).

Kawan, kalau kita percaya surga dan neraka, yang sumber informasinya Al Quran. Maka seharusnyalah kita juga percaya dan yakin pada hal – hal lain yang sumbernya juga dari Al Quran.

Kita harusnya yakin benarnya perintah Alloh SWT agar kita melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, sebagaimana firman Alloh SWT : “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”
(TQS Al Baqarah [2] : 110).

Kawan, kita juga seharusnya percaya benarnya perintah Alloh SWT agar kita melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan, sebagaimana firman Alloh SWT : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
(TQS Al Baqarah [2 ]: 183)

Kita juga seharusnya percaya dan yakin atas kebenaran perintah Alloh SWT agar kaum wanita mengenakan jilbab ketika keluar rumah, sebagaimana firman Alloh SWT : ” Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS Al Ahzab [33] : 59)

Kita juga seharusnya percaya dan yakin atas larangan Alloh SWT terhadap perilaku zina dan hal-hal yang mendekati zina, sebagaimana firman Alloh SWT : ” Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (TQS Al Isra’ [17] : 32)

Kita juga seharusnya percaya dan yakin atas larangan Alloh SWT terhadap minuman keras (khamer), perjudian, dan mengundi nasib, sebagaimana firman Alloh SWT: ” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (TQS Al Maidah [5] : 90)

Kita juga seharusnya percaya dan yakin atas larangan Alloh SWT terhadap harta riba, sebagaimana firman Alloh SWT : ” Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba……” (TQS Al Baqarah [2] : 275)

Kawan, atas semua perintah itu, harusnya kita taat dan mengamalkannya. Atas semua larangan itu, harusnya kita tunduk dan meninggalkannya. Ketidaktaatan kepada Al Quran, hakekatnya adalah ketidakpatuhan kepada yang Menurunkan Al Quran, yaitu Alloh SWT, Dzat yang Menciptakan manusia dan seluruh alam, Dzat yang Memiliki surga dan neraka !

Lalu, atas alasan apa, jika ada manusia yang tidak mau taat pada ayat – ayat Al Quran; padahal dia mengharapkan kenikmatan surga, dan ingin terhindar dari siksa neraka ?. Wallohu’alam. ****

Tulisan ini sebagai bahan buletin Buka Hati yang diedarkan di aloon-aloon pada tanggal 26 April 2008 (untuk edisi cetak sebagian isi diedit guna menyesuaikan dengan kapasitas kolom)

Kawan, Ayo Hadir ! di Acara Fresh Hour“MENGUBAH DUNIA DENGAN HATI”Bedah Buku : Dakwah dengan Cinta - Penulis : Husein Matla Pembicara : Pak Agus Ariadi (a frend to talk), Mas Rahmad (obey creativity club),Pak Khalid Wahyudin (praktisi kaummaya al azhar), Host : Pak Edy Sutrisno ( komunitas ublik)Tempat : di SMPN Kedungwaru 01 TulungagungWaktu : InsyaAlloh tgl. 04 Mei 2008, pukul 08.00- selesai

Senin, 21 April 2008

KEUNGGULAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

KEUNGGULAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
( Bahan Referensi untuk Bedah Buku ” Strategi Pendidikan Negara Khilafah” karangan : Abu Yasin
di STAIN Tulungagung, Sabtu 19 April 2008 )
Oleh: Edy Sutrisno, SP

Robert L. Gullick Jr., dalam bukunya, Muhammad, The Educator, menyatakan: Muhammad merupakan seorang pendidik yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan yang lebih besar. Tidak dapat dibantah lagi bahwa Muhammad sungguh telah melahirkan ketertiban dan stabilitas yang mendorong perkembangan Islam, suatu revolusi sejati yang memiliki tempo yang tidak tertandingi dan gairah yang menantang…Hanya konsep pendidikan yang paling dangkallah yang berani menolak keabsahan meletakkan Muhammad di antara pendidik-pendidik besar sepanjang masa, karena—dari sudut pragmatis—seorang yang mengangkat perilaku manusia adalah seorang pangeran di antara pendidik.

Pendidikan merupakan bagian kebutuhan mendasar manusia (al-hâjat al-asasiyyah) yang harus dipenuhi oleh setiap manusia seperti halnya pangan, sandang, perumahan, kesehatan, dan perumahan. Pendidikan adalah bagian dari masalah politik (siyâsah) yang diartikan sebagai ri‘âyah asy-syu’ûn al-ummah (pengelolaan urusan rakyat) berdasarkan ideologi yang diemban negara.

Berdasarkan pemahaman mendasar ini, politik pendidikan (siyâsah at-ta‘lîm) suatu negara sangat ditentukan oleh ideologi (pandangan hidup) yang diemban negara tersebut. Faktor inilah yang menentukan karakter dan tipologi masyarakat yang dibentuknya. Dengan demikian, politik pendidikan dapat dipahami sebagai strategi pendidikan yang dirancang negara dalam upaya menciptakan kualitas human resources (sumberdaya manusia) yang dicita-citakan.

Sistem pendidikan yang ditegakkan berdasarkan ideologi sekularisme-kapitalisme atau sosialisme-komunisme dimaksudkan untuk mewujudkan struktur dan mekanisme masyarakat yang sekular-kapitalis atau sosialis-komunis. Seluruh subsistem (ekonomi, sosial, politik, pemerintahan, politik luar, dan dalam negeri, hukum pidana, dll.) yang menopang masyarakat itu ditegakkan berdasarkan asas ideologi yang sama; bukan yang lain. Demikian pula dengan Islam; akan membangun masyarakat yang sesuai dengan cita-cita ideologinya. Model masyarakat yang diciptakannya tentu saja akan berbeda dengan masyarakat yang dibentuk oleh kedua sistem ideologi di atas.

Melalui pengamatan terhadap karakteristik ideologi tersebut, jejak-langkah sistem pendidikan yang berlangsung akan mudah dipahami. Sistem pendidikan sekular-kapitalis melahirkan strategi pendidikan sekular sehingga pada gilirannya akan menciptakan tipologi masyarakat sekular-kapitalis. Begitu pula sistem pendidikan sosialisme-komunis maupun Islam.

Walhasil, pemahaman tentang karakter ideologi ini menjadi sangat penting untuk dipahami. Ketidakpahaman terhadap ideologi yang dianut akan menyebabkan pemahaman yang bias terhadap seluruh sistem yang dibangun. Hal itu berimbas pada ketidakpahaman terhadap tujuan suatu sistem pendidikan dan karakteristik manusia yang hendak dibentuknya. Giliran berikutnya, sistem pendidikan yang dijalankan hanya akan membuat program-program pendidikan sebagai sarana trial and error dan menjadikan peserta didik bagai kelinci percobaan.

Pendidikan yang sekular-materialistik saat ini merupakan produk dari ideologi sekular yang terbukti telah gagal mengantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni seorang manusia shalih dan mushlih. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, paradigma pendidikan yang didasarkan pada ideologi sekular, yang tujuannya sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dalam pencapaian tujuan hidup, hedonistik dalam budaya masyarakatnya, individualistik dalam interaksi sosialnya, serta sinkretistik dalam agamanya.

Kedua, kerusakan fungsional pada tiga unsur pelaksana pendidikan, yakni: (1) lembaga pendidikan formal yang lemah; tercermin dari kacaunya kurikulum serta tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya; (2) kehidupan keluarga yang tidak mendukung; (3) keadaan masyarakat yang tidak kondusif.

Asas yang sekular mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya pada proses penguasaan tsaqâfah Islam dan pembentukan kepribadian Islam. Guru/dosen sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality), karena memang kepribadian guru/dosen sendiri tidak lagi pantas diteladani. Lingkungan fisik sekolah/kampus yang tidak tertata dan terkondisi secara islami turut menumbuhkan budaya yang tidak memacu proses pembentukan kepribadian peserta didik. Akhirnya, rusaklah pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan.

Para orangtua juga tidak secara sungguh-sungguh menanamkan dasar-dasar keislaman yang memadai kepada anaknya. Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orangtua dalam sikap keseharian terhadap anak-anaknya makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan. Masyarakat, yang semestinya menjadi media pendidikan yang real, juga berperan sebaliknya, yaitu menegasikan hampir seluruh proses pendidikan di rumah dan persekolahan. Sebab, dalam masyarakat berkembang sistem nilai sekular; mulai dari bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun tata pergaulan sehari-hari; berita-berita pada media masa juga cenderung mempropagandakan hal-hal negatif.

Oleh karena itu, penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental. Hal itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma Islam. Pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara memperbaiki strategi fungsionalnya sesuai dengan arahan Islam.

Politik Pendidikan Islam

Pendidikan dalam Islam harus kita pahami sebagai upaya mengubah manusia dengan pengetahuan tentang sikap dan perilaku yang sesuai dengan kerangka nilai/ideologi Islam. Dengan demikian, pendidikan dalam Islam merupakan proses mendekatkan manusia pada tingkat kesempurnaannya dan mengembangkan kemampuannya yang dipandu oleh ideologi/akidah Islam.
Secara pasti, tujuan pendidikan Islam adalah menciptakan SDM yang berkepribadian Islami, dalam arti, cara berpikirnya harus didasarkan pada nilai-nilai Islam serta berjiwa sesuai dengan ruh dan nafas Islam. Metode pendidikan dan pengajarannya juga harus dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tercapainya tujuan tersebut tentu akan dihindarkan. Jadi, pendidikan Islam bukan semata-mata melakukan transfer of knowledge, tetapi memperhatikan apakah ilmu pengetahuan yang diberikan itu dapat mengubah sikap atau tidak.

Dalam kerangka ini, diperlukan monitoring yang intensif oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah (negara), terhadap perilaku peserta didik, sejauh mana mereka terikat dengan konsepsi-konsepsi Islam berkenaan dengan kehidupan dan nilai-nilainya. Rangkaian selanjutnya adalah tahap merealisasikannya sehingga dibutuhkan program pendidikan dan kurikulum yang selaras, serasi, dan berkesinambungan dengan tujuan di atas.

Kurikulum dibangun di atas landasan akidah Islam sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islâm dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya mendapat porsi yang besar. Ilmu-ilmu terapan diajarkan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu (formal). Di tingkat perguruan tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Misalnya, materi tentang ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme dapat disampaikan untuk diperkenalkan kepada kaum Muslim setelah mereka memahami Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan serta dipahami cacat-cela dan ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.

Pada jenjang PT tentu saja dibuka berbagai jurusan, baik dalam cabang ilmu keislaman ataupun jurusan lainnya seperti teknik, kedokteran, kimia, fisika, sastra, politik, dll. Dengan begitu, peserta didik dapat memilih sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Dengan model sistem pendidikan Islam seperti ini, kekhawatiran akan munculnya dikotomi ilmu agama dan ilmu duniawi tidak akan terjadi. Dikotomi ilmu itu hanya terjadi pada masyarakat sekular-kapitalistik, tidak dalam masyarakat Islam. Generasi yang akan terbentuk adalah SDM yang mumpuni dalam bidang ilmunya sekaligus memahami nilai-nilai Islam serta berkepribadian Islam yang utuh.

Beberapa paradigma dasar bagi sistem pendidikan dalam Islam adalah sebagai berikut:
Prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan didasarkan pada akidah Islam. Tujuannya adalah membentuk sumberdaya manusia terdidik dengan ‘aqliyah islâmiyah (pola berpikir islami) dan nafsiyah islâmiyah (pola sikap islami).
Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan sehingga melahirkan amal salih dan ilmu yang bermanfaat. Perhatikan bagaimana al-Quran mengungkapkan tentang ahsanu ‘amalan atau amalan shâlihan (amal yang terbaik atau amal shalih).

Pendidikan ditujukan dalam rangka membangkitkan dan mengarahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia selaras dengan fitrah manusia dan meminimaliasi aspek buruknya.

Keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pendidikan. Teladan yang harus diikuti adalah Rasulullah saw. Dengan demikian, Rasulullah saw. merupakan figur sentral keteladanan bagi manusia.

Adapun strategi dan arah perkembangan ilmu pengetahuan dapat kita lihat dalam kerangka berikut ini: Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal Allah Swt. sebagai al-Khaliq, mengagungkan-Nya, serta mensyukuri seluruh nikmat yang telah diberikan-Nya.

Ilmu harus dikembangkan dalam rangka menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah Swt. semata sehingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan terhadap siapa pun tanpa pandang bulu. Ilmu yang dipelajari ditujukan untuk menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta. Ilmu dikembangkan dalam rangka mengambil manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. karena Allah telah menundukkan matahari, bulan, bintang, dan segala hal yang terdapat di langit atau di bumi untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu yang dikembangkan dan teknologi yang diciptakan tidak ditujukan dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada diri manusia itu sendiri.

Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki:

Kepribadian Islam

Tujuan ini merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim, yaitu keteguhan dalam memegang identitas kemuslimannya dalam pergaulan sehari-hari. Identitas itu tampak pada dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang berpijak pada akidah Islam. Paling tidak, terdapat tiga langkah untuk membentuk kepribadian Islam sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu:
1. Menanamkan akidah Islam sebagai sebagai ‘aqîdah ‘aqliyah—akidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam—kepada setiap orang.
2. Menanamkan sikap konsisten dan istiqamah kepada setiap orang agar cara berpikir dan kecenderungan insaninya tetap berada di atas pondasi akidah yang diyakininya.
3. Mengembangkan kepribadian dengan senantiasa mengajak setiap orang bersungguh-sungguh dalam mengisi pemikirannya dengan tsaqâfah Islâmiyah dan mengamalkan perbuatan yang selalu berorientasi pada ketaatan kepada Allah Swt.

Menguasai tsaqâfah islâmiyah dengan handal.

Islam mendorong setiap Muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara mewajibkannya untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran kewajibannya, menurut al-Ghazali, ilmu dibagi ke dalam dua kategori, yaitu: (1) ilmu yang fardlu ‘ain, yaitu wajib dipelajari setiap Muslim seperti: ilmu-ilmu tsaqâfah Islam yang terdiri konsepsi, ide, dan hukum-hukum Islam (fiqh), bahasa Arab, sirah Nabi, Ulumul Quran, tahfîdz al-Quran, Ulumul Hadits, ushul fikih, dll; (2) ilmu yang dikategorikan fardhu kifayah, biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi serta ilmu terapan-keterampilan seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik,dll.

Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK).

Menguasai PITEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardhu kifayah, yaitu kewajiban yang harus dikerjakan oleh sebagian Muslim apabila ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal, yaitu: (1) pengetahuan yang mengembangkan akal manusia sehingga ia dapat menentukan suatu tindakan tertentu; (2) pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri.

Allah Swt. telah memuliakan manusia dengan akalnya. Allah menurunkan al-Quran dan mengutus Rasul-Nya dengan membawa Islam agar beliau menuntun akal manusia dan membimbingnya ke jalan yang benar. Pada sisi yang lain, Islam memicu akal untuk dapat menguasai PITEK karena dorongan dan perintah untuk maju merupakan buah dari keimanan. Dalam kitab Fath al-Kabîr, juz III, misalnya, diketahui bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus dua orang sahabatnya ke negeri Yaman untuk mempelajari pembuatan senjata muktahir, terutama alat perang yang bernama dabbabah, sejenis tank yang terdiri atas kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda. Rasulullah saw. memahami manfaat alat ini bagi peperangan melawan musuh dan menghancurkan benteng lawan.

Memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdayaguna.

Penguasaan keterampilan yang serba material ini merupakan tuntutan yang harus dilakukan umat Islam dalam rangka pelaksanaan amanah Allah Swt. Hal ini diindikasikan dengan terdapatnya banyak nash yang mengisyaratkan setiap Muslim untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum dan keterampilan. Hal ini dihukumi sebagai fardhu kifayah.

Negara Sebagai Penyelenggara Pendidikan

Dalam Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan; negara wajib mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah.
Rasulullah saw. bersabda:


Seorang imam (khalifah/ kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikantampak ketika beliau menetapkan para tawanan Perang Badar yang ingin bebas untuk mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah sebagai tebusan atas diri mereka. Menurut hukum Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Mal (kas negara). Tebusan ini sama nilainya dengan pembebasan tawanan Perang Badar.
Artinya, dengan tindakan membebankan pembebasan tawanan Perang Badar pada Baitul Mal (kas negara)—dengan memerintahkan mereka mengajarkan baca tulis—berarti Rasulullah saw. telah menjadikan biaya pendidikan itu setara nilainya dengan barang tebusan. Dengan kata lain, beliau memberi upah kepada para pengajar itu (tawanan perang) dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik kas negara.
Imam Ibn Hazm dalam kitabnya, Al-Ahkâm, menjelaskan bahwa seorang kepala negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat.

Jika kita melihat sejarah kekhalifahan Islam, kita akan melihat perhatian para khalifah (kepala negara) yang sangat besar terhadap pendidikan rakyatnya; demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya. Sebagai contoh, Imam ad-Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari al-Wadhiyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin al-Khaththab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas).

Fakta menunjukkan kepada kita bahwa perhatian para kepala negara kaum Muslim (khalifah) bukan hanya tertuju pada gaji para pendidik dan biaya sekolah, tetapi juga sarana lainnya, seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dll. Di antara perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Mosul didirikan oleh Ja‘far bin Muhammad (w. 940 M). Perpustakaan ini sering dikunjungi para ulama, baik untuk membaca atau menyalin. Pengunjung perpustakaan ini mendapatkan segala alat yang diperlukan secara gratis seperti pena, tinta, kertas, dll. Bahkan, para mahasiswa yang secara rutin belajar di perpustakaan itu diberikan pinjaman buku secara teratur. Seorang ulama, Yaqut ar-Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa karena mereka mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun perorang. Ini terjadi masa kekhalifahan Islam abad 10 Masehi. Bahkan, para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.
Begitu pula dengan Madrasah an-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad ke-6 Hijriyah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Media pendidikan adalah segala sarana dan prasarana yang digunakan untuk melaksanakan program dan kegiatan pendidikan. Dengan demikian, majunya sarana-sarana pendidikan dalam kerangka untuk mencerdaskan umat menjadi kewajiban negara untuk menyediakannya. Oleh sebab itu, keberadaan sarana-sarana berikut harus disediakan: Perpustakaan umum, laboratorium, dan sarana umum lainnya di luar yang dimiliki sekolah dan PT untuk memudahkan para siswa melakukan kegiatan penelitian dalam berbagai bidang ilmu, baik tafsir, hadits, fikih, kedokteran, pertanian, fisika, matematika, industri, dll sehingga hanya tercipta para ilmuwan dan mujtahid.

Mendorong pendirian toko-toko buku dan perpustakaan pribadi. Negara juga menyediakan asrama, pelayanan kesehatan siswa, perpustakaan dan laboratorium sekolah, serta beasiswa bulanan yang mencukupi kebutuhan siswa sehari-hari. Keseluruhan itu dimaksudkan agar perhatian para siswa tercurah pada ilmu pengetahuan yang digelutinya sehingga terdorong untuk mengembangkan kreativitas dan daya ciptanya.

Negara mendorong para pemilik toko buku untuk memiliki ruangan khusus pengkajian dan diskusi yang dipandu oleh seorang alim/ilmuwan/cendekiawan. Pemilik perpustakaan pribadi didorong memiliki buku-buku terbaru, mengikuti diskusi karya para ulama dan hasil penelitian ilmiah cendekiawan.

Sarana pendidikan lain seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, dll yang dapat dimanfaatkan siapa saja tanpa mesti ada izin negara. Negara mengizinkan masyarakatnya untuk menerbitkan buku, surat kabar, majalah, mengudarakan radio dan televisi; walaupun tidak berbahasa Arab, tetapi siaran radio dan televisi negara harus berbahasa Arab. Negara melarang jual-beli dan ekspor-impor buku, majalah, surat kabar yang memuat bacaan dan gambar yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Negara juga melarang acara televisi, radio, dan bioskop yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Negara berhak menjatuhkan sanksi kepada orang atau sekelompok orang yang mengarang suatu tulisan yang bertentangan dengan akidah Islam. Seluruh surat kabar dan majalah serta pemancar radio & televisi yang sifatnya rutin milik orang asing dilarang beredar dalam wilayah Khilafah Islamiyah. Hanya saja, buku-buku ilmiah yang berasal dari luar negeri dapat beredar setelah diyakini di dalamnya tidak membawa pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam.

Demikian pemaparan politik pendidikan Islam, sangat jelas keunggulan sistem pendidikan Islam yang diatur oleh syariat Islam. Dengan bersikap obyektif terhadap syariat Islam, seharusnya manusia yang jujur, berpikir, dan memiliki nurani jernih akan kembali ke pangkuan syariat Islam. Wallâhu a‘lam.

Renungan
Di tengah kebingungan dan kegagapan kita memilih sistem pendidikan yang terbaik untuk umat ini, maka sudah saatnya kita memilih Sistem dan Strategi Pendidikan Islam.
Terlalu mahal biaya yang harus ditanggung oleh umat dengan diterapkannya sistem pendidikan sekulerisme. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggulangi kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas, aids/hiv, kriminalitas, bahkan korupsi. Yang kesemuanya dilakukan oleh generasi – generasi yang telah dididik oleh bangsa ini dengan paradigma sekulerisme. Memisahkan agama dari kehidupan, memisahkan Islam dari pengelolaan pendidikan.
Munculnya lembaga pendidikan Islam, adalah bukti kebutuhan umat akan pendidikan Islamy ( yang tidak dilayani oleh negara), dan juga bukti ketidakpercayaan ummat atas pendidikan sekulerisme dijalankan oleh negara.
Sudah saatnya ummat dan bangsa ini kembali kepada Sistem Kehidupan Islam, yang akan mengantarkan kepada keselamatan dan kesejahteraan umat manusia.

Akhirnya, semoga Alloh SWT senantiasa memberikan hidayah dan pertolonganNya kepada kita bersama. Amin.
Wallohu a’lam.

Daftar Pustaka
An Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Nizhâm al-Islâm.
Hizbut Tahrir Indonesia. 2002. Bunga Rampai Syariat Islam.
dan lain – lain.

Please, Help Me, Ya Alloh !

” Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ”
(TQS Ghafir [40]: 60)

Kawan, marilah kita mengingat kembali, bahwa adakah satu masa dalam hidup kita yang terjadi tanpa CAMPUR TANGAN Alloh SWT, Dzat Maha Pencipta ? Jawabanya tentu tidak ada. Setiap detik yang kita alami dalam hidup ini semuanya pemberian Alloh SWT, mulai kita lahir hingga saat ini, tanpa harus kita minta, Alloh SWT telah memberi. Maka sudah sepantasnya jika kita minta tolong kepada Alloh SWT untuk segala urusan dan apa kita inginkan. Kita sering minta tolong kepada orang lain, tapi jarang minta tolong kepada Alloh SWT.

Namun, sunnatullah, lazimnya, untuk mendapatkan apa yang kita minta, kita seharusnya menyiapkan media sebagai sarana terkabulkannya permintaan kita. Analoginya, saat kita minta uang saku (sangu) saat hendak berangkat sekolah, kita diharuskan menggerakkan tangan (ngatung) untuk menerimanya. Maka demikian pulalah jika kita mohon kepadaNya, maka siapkan ikhtiar yang menjadi perantara diberikanNya apa yang kita minta. Tentunya ikhtiar yang dibenarkan olehNya.

Andai ada Kawan yang ingin lulus ujian, maka marilah kita mohon kepadaNya, semoga Alloh SWT memberikan kemudahan dan lulus dalam ujian, tentunya dengan diiringi belajar yang rajin, dengan harapan Alloh SWT memberikan ingatan dan pemahaman sehingga dengan itu kita dimudahkanNya saat ujian. Amin. Sebaliknya, marilah kita hindari berbuat curang, semisal mencontek atau ”ngrepek”, yang bisa jadi kita juga akan lulus, tetapi jauh dari keberkahanNya.

Andai ada Kawan yang ingin mendapatkan kesempatan belajar lagi, seusai lulus sekolah, maka marilah kita bermohon kepadaNya, semoga Alloh SWT melapangkan rizki yang halal dan berkah kepada orang tua kita dan kepada kita, sehingga rupiah yang kita butuhkan akan dicukupiNya, dan dapat kita manfaatkan untuk keperluan belajar di sekolah yang kita inginkan. Amin. Sambil, kita iringi ikhtiar mencari rizki dengan bekerja yang halal, dan kita hindari pekerjaan yang diharamkanNya.

Andai ada Kawan yang ingin mendapatkan kesuksesan dan kemudahan mendapatkan rizki, maka marilah kita bermohon kepadaNya, semoga Alloh SWT mengabulkan. Sembari kita iringi serangkaian ikhtiar, misal dengan mengikuti kursus-kursus keterampilan, atau belajar berwirausaha. Dengan harapan Alloh SWT melimpahkan kesuksesan dan kemudahan melalui keterampilan atau ikhtiar yang kita lakukan. Amin.

Andai ada Kawan yang ingin mendapatkan pendamping/pasangan hidup yang sholeh atau sholikah. Maka marilah kita bermohon kepadaNya. Dan kita pun berusaha menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah, dan senantiasa berusaha bergaul dengan orang – orang yang sholeh. Pada saat yang sama, kita hindari pergaulan yang diharamkan Alloh SWT. Semoga dengan kesungguhan kita menjaga kepribadian dan pergaulan kita, menyebabkan Alloh SWT ridlo dan berkenan mengabulkan doa kita, dan mempertemukan kita dengan pribadi sholeh/sholihah yang kita maksud. Amin.

Kawan, namun demikian, apapun doa kita, maka kita serahkan sepenuhnya keputusannya kepada Alloh SWT. Karena yang paling tahu atas hakikat apa yang kita butuhkan.

Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa kepada Alloh dengan suatu doa yang di dalamnya tidak dosa dan memutuskan silahturahmi, kecuali Alloh akan memberinya salah satu dari tiga perkara, yaitu bisa jadi Alloh akan mempercepat terkabulnya doa itu saat di dunia; atau Alloh akan menyimpan terkabulnya doa di akherat kelak, dan bisa jadi Alloh akan memalingkan keburukan darinya sesuai dengan kadar doanya. Para sahabat berkata. ”Kalau begitu kami akan memperbanyak doa ” Rasululloh SAW bersabda, “ Alloh akan lebih banyak lagi (mengabulkannya). (HR Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

Akhirnya, tidaklah berlebihan jika kita mengucap ”Please, help me, Ya Alloh”. Dan, biarkan Alloh SWT CAMPUR TANGAN atas urusan kita. Amin. Wallohualam***

Tulisan ini sebagai bahan buletin Buka Hati lembar ke 07 yang disebarkan di alon-alon Tulungagung pada hari sabtu tanggal 19 April 2008.

Kamis, 17 April 2008

True Love !

True Love !
”Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.” (HR Muttafaq ‘alaih)
”Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman : (1) orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lainnya; (2) orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; (3) orang yang tidak suka kembali pada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Kawan, salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada kami saat nongkrong di alon-alon, apa tujuan kegiatan komunitas ublik ? Atas pertanyaan itu, perkenankan kami menjawab. Apa yang kami lakukan ini adalah dalam rangka melaksanakan seruan yang ada di hadist di atas. Apa hubungannya ? Jelas ada dong ! Kami Muslim, Kawan juga seorang Muslim, padahal sesama Muslim adalah bersaudara. Makanya kami mencintai Kawan sebagai sesama ”penyuka” nongkrong yang beragama Islam ! Sesama Muslim !

Kami berusaha agar mendapatkan manisnya Iman. Dan kami pun ingin mengajak Kawan agar juga berusaha merasakan manisnya Iman. Kami berusaha menaati perintah Alloh SWT dan berusaha menjauhi larangan Alloh SWT. Dan kami merasakan bahagianya dalam ketaqwaan kepada Alloh SWT. Maka kami pun ingin Kawan dapat menikmatinya juga.

Selain alasan di atas, kami juga ingin mengajak Kawan membiasakan sikap untuk saling tausiyah, saling menasehati. Sebab, sebagai bukti kecintaan sesama Muslim adalah saling menasehati.

Adalah salah besar, jika kecintaan kita kepada teman, dimaknai dengan bersikap berdiam diri atas penyimpangan, atau kesalahan yang dilakukan teman dan sahabat kita. Adalah sangat keliru, jika kita enggan menegur atau menasehati meski perbuatan sahabat kita itu melanggar aturan Alloh SWT dan Rasululloh SAW. Adalah kedloliman yang nyata, jika kita mengikuti ajakan teman untuk bermaksiat kepada Alloh SWT, dengan alasan ”sungkan” dengan teman kita. Padahal pada kesempatan lain, kita tidak pernah merasa ”sungkan” untuk menolak ajakan teman kita mengikuti kajian Islam. Maka, kita harus berani menolak ajakan minum khamr, dan seharusnya kita juga berani mengingatkannya atas keharaman khamr dan keharusan untuk meninggalkannya, dan bahaya atas dosa yang ditimbulkannya. Maka, dengan demikian, semoga kita akan mendapatkan banyak imbalan pahala, yaitu : (1) atas meninggalkan perbuatan yang diharamkan Alloh SWT, (2) atas nasehat amar ma’ruf nahi munkar, dan (3) atas kesungguhan kita melindungi teman kita dari perbuatan yang diharamkan, sebagai bukti kecintaan kita kepada teman kita. Wallohua’lam. Sebaliknya jika kita mengikuti ajakan maksiatnya, maka kita pun berdosa atas kedloliman kita, dan teman kita pun mendapatkan tambahan dosa dari perbuatan kita, tanpa mengurangi dosa kita. Naudzubillah.

Maka marilah kita tanamkan keberanian untuk menolak ajakan teman untuk berbuat maksiat. Pada awalnya mungkin muncul rasa tidak enak, takut, sungkan, atau ragu - ragu. Marilah kita niatkan bahwa penolakan kita semata – mata karena Alloh SWT. Jangan takut dengan celaan teman kita.

Tentunya kita telah memahami, bahwa kebersamaan kita dengan teman-teman kita dalam kemaksiatan tidak akan dapat menyelamatkan kita dari siksa nerakaNya. Naudzubillahi min dzalik. Semoga Alloh SWT menjauhkan kita dari hal yang demikian.

Di antara wasiat – wasiat (pesan – pesan) Rasulullah SAW adalah : ” Jangan takut berada di jalan Allah terhadap celaan orang yang suka mencela. ” Aku berkata, ”Tambah lagi yang Rasulullah.” Beliau melanjutkan pesannya : ” Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit.” (HR Ibnu Hiban)

Dan, seharusnya sebagai bukti cinta kita pada teman sesama Muslim, pada saat ada teman kita yang mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada ketaqwaan kepada Alloh SWT; kita menyambutnya dan mengikutinya. Semoga dengan itu, kita mendapatkan pahala atas amal shalih kita, dan juga teman kita pun akan mendapatkan tambahan pahala dari amal kita, (tanpa mengurangi pahala amal kita). Wallohualam***

Tulisan ini sebagai bahan buletin Buka Hati lembar ke 07 yang disebarkan di alon-alon Tulungagung pada hari sabtu tanggal 19 April 2008.